Catatan Perjalanan di Sinjai: Mushaf, Ulama, dan Jejak Sejarah Islam di Sulawesi Selatan

Sinjai, 20 Juli 2025. Keesokan harinya, tepat pukul 07.30 WITA, kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Sinjai. Sebelum meninggalkan Pompanua, kami berpamitan terlebih dahulu kepada pengasuh, keluarga besar Lembaga Tahfidz Yayasan H. Ahmad Surur, serta para santri yang sejak awal telah menerima kami dengan keramahan khas pesantren Bugis. Ada rasa haru terselip di balik senyum perpisahan itu, sebab dua hari bersama mereka telah menghadirkan pengalaman akademik sekaligus spiritual yang tidak ringan. Namun perjalanan harus dilanjutkan, membawa semangat yang sama: menjaga dan mendigitalisasi mushaf-mushaf kuno peninggalan ulama terdahulu.

Perjalanan darat dari Pompanua menuju Sinjai menempuh waktu sekitar empat jam. Jalanan yang berliku tak membuat rasa lelah terasa berlebihan karena setiap hamparan sawah, perbukitan, hingga sungai yang kami lewati menghadirkan panorama khas Sulawesi Selatan. Kami sempat berhenti sejenak di Watampone, ibu kota Kabupaten Bone. Tepat di alun-alun, berdiri gagah monumen Arung Palakka, sosok yang begitu terkenal dalam sejarah Sulawesi Selatan. Kami menyempatkan diri mengambil beberapa gambar di lokasi ini, sebuah jeda singkat yang menambah warna dalam perjalanan panjang. Setelah itu, kami kembali melanjutkan sisa perjalanan menuju Sinjai.

Tepat pukul 12.00 WITA, kami tiba di kediaman Bapak Haldum Yaqub di Biringere, Kecamatan Sinjai Utara. Sambutan beliau yang hangat membuat suasana cair, seolah kami sudah lama mengenal. Sambil berbincang ringan, kami pun bersiap memulai tujuan utama kedatangan: melakukan identifikasi dan digitalisasi mushaf kuno yang tersimpan di kediaman beliau.

Di lokasi ini, kami menemukan tiga mushaf berukuran besar dan satu mushaf berukuran sedang. Dari identifikasi awal, salah satu mushaf ternyata memiliki keunikan berupa pias (catatan pinggir) dan parateks yang menjelaskan variasi qira’at. Tidak hanya itu, pada beberapa awal surah, terdapat tambahan penjelasan mengenai faidah-faidah tertentu yang disertai kutipan hadits Nabi. Temuan ini menjadi penting karena memperlihatkan betapa mushaf-mushaf lokal Nusantara tidak hanya merekam teks Al-Qur’an semata, melainkan juga mengintegrasikan pengetahuan tafsir, qira’at, dan tradisi hadis.

Proses digitalisasi berlangsung intens sejak siang hingga petang. Dengan penuh kehati-hatian, lembar demi lembar mushaf dipindai hingga seluruhnya terdokumentasi. Pukul 18.00 WITA, pekerjaan akhirnya rampung. Setelah beristirahat sejenak, kami pun berpamitan kepada Bapak Haldum Yaqub sekitar pukul 19.00 WITA. Meski singkat, pengalaman di Sinjai terasa kaya—baik secara ilmiah maupun emosional karena sekali lagi kami bersentuhan langsung dengan warisan intelektual Islam Bugis yang sarat nilai.

Perjalanan panjang kembali menanti. Dari Sinjai menuju Makassar, kami menempuh waktu sekitar lima jam melalui jalur poros Tanabatue–Palattae, lalu berbelok menuju Kabupaten Maros melewati poros Maros–Soppeng. Jalanan malam yang sepi menjadi saksi bisu perjalanan kami. Akhirnya, sekitar pukul 02.00 WITA dini hari, kami tiba di Kota Makassar dan langsung beristirahat di sebuah penginapan di sekitar Jalan A.P. Pettarani. Malam itu, rasa lelah bercampur dengan rasa syukur. Kami tahu, keesokan paginya perjalanan akan berlanjut, dan setiap mushaf yang kami temukan akan menambahkan satu lagi lembar penting dalam mozaik


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *